adsense

Wednesday, June 17, 2015

Penumpang Taxi Terakhir (Kisah Nyata)

Duapuluh tahun yang lalu, aku bekerja sebagai seorang Sopir Taxi. Pada suatu hari, di tengah malam, aku berhenti di dekat sebuah bangunan yang tampak gelap, hanya dengan pencahayaan sebuah yang redup.

Dalam keadaan gelap dan sepi seperti itu, banyak sekali supir taksi yang hanya berhenti sekali, hanya menunggu sebentar, kemudian pergi. Tetapi bagiku, aku telah melihat banyak orang yang bergantung kepada jasa Taxi sebagai alat transportasi. Kecuali situasinya terlihat berbahaya, aku selalu siap sedia di pintu Taxi-ku. Mungkin saja disana ada seorang penumpang  yang membutuhkan bantuanku, kataku meyakinkan diri sendiri. Aku berjalan menuju pintu bangunan itu, lalu mengetuknya. "Tunggu Sebentar,." terdengar sebuah jawaban yang lirih, suara seorang perempuan tua.

Aku dapat mendengar suara benda yang ditarik di lantai. Setelah beberapa lama, pintunya terbuka. Seorang perempuan tua, bertubuh kecil, berusia sekitar 80 tahun berdiri didepanku. Menggenakan setelan pakaian era tahun 1940'an, mantel panjang dengan topi bulat, beserta kerudung sebagai penghias topi itu. Disampingnya terlihat sebuah koper kecil.

Tempat tinggal perempuan tua itu seperti sebuah bangunan yang tak berpenghuni. Barang barang disana tertutup oleh kertas yang berserakan. Tidak ada jam dinding yang menempel di tembok. Tidak juga terlihat hiasan hiasan di lemarinya kacanya. Di sudut rumahnya terdapat sebuah kardus yang penuh dengan photo dan gelas kaca. 




"Maukah kau memasukkan tas-ku ke mobil?" kata permpuan tua itu. Aku mengangkat tas perempuan itu dan memasukkanya kedalam Taxi-ku, kemudian kembali dan membantu perempuan itu menuju Taxi-ku. Dia memegang tanganku dan kami berjalan dengan pelan menuju ke arah Taxi. Dia selalu saja berterima kasih atas kebaikanku saat itu.

"Itu tak seberapa nek," kataku padanya, "Aku hanya mencoba untuk memperlakukan penumpangku sebagaimana aku ingin orang lain memperlakukan orang tuaku.
"Oh,. engkau sungguh seorang anak yang baik." Kata perempuan tua itu. Ketika kami sampai di Taxi, perempuan tua itu memberiku sebuah Alamat, kemudian dia bertanya, "Dapatkah engkau lewat jalur Kota?"
"Tetapi itu bukan jalan tercepat menuju alamat anda,." Jawabku dengan cepat.
"Oh,. aku tidak keberatan," Jawabnya. "Aku tidak terburu buru, dan aku akan sangat menikmati perjalanan itu."

Aku melihat melalui kaca spion-ku. Mata perempuan tua itu tampak berkilau. "Aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi," lanjut perempuan tua itu, "Dokter berkata bahwa usiaku sudah tidak akan lama lagi."
Dengan diam-diam aku mematikan meteran Taxi-ku, "Rute mana yang ingin kau lalui nek?" AKu bertanya kepada Perempuan tua itu.

Selama dua jam kedepan, kami berjalan melewati tengah kota. Perempuan tua itu menunjukkan sebuah bangunan dimana dia dulunya bekerja sebagai operator lift. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kesebuah perumahan dimana dia dan suaminya dulu pernah tinggal sebagai pengantin baru. Lalu mobil kami terus melaju, sampai ke sebuah gudang tua tempatnya berlatih menari ballet ketika dia masih gadis.

Kadang, perempuan tua itu memintaku untuk memperlambat laju Taxi di depan beberapa tempat. Pada saat itu, dia akan duduk dan memandangi tempat itu dari jendela Taxi-ku, memandang dengan tatapan yang tampak kosong, diam tanpa berkata apa-apa.

Tidak terasa mentari mulai tampak di ujung batas langit, perempuan tua itu tiba-tiba berkata, "Aku lelah, Ayo kita pergi." Kami berkendra dalam hening menuju alamat yang telah diberikannya kepadaku tadi.

Tempat pemberhentian kami merupakan sebuah bangunan kecil, mirip sebuah rumah rehabilitasi, dengan sebuah jalan khusus mobil yang sampai ke bagian pintu depan. Dua perempuan tua yang kira-kira memiliki usia yang sama dengannya telah menunggu di depan pintu. Mereka berdua terlihat khawatir, dan memperhatikan semua gerakan perempuan tua yang bersamaku itu. Tampaknya mereka telah menunggu kehadiran kami. Aku membuka bagasi Taxi-ku, kemudian mengeluarkan koper milik perempuan tua itu. Ketika aku ingin menjemputnya ke pintu Taxi, perempuan tua itu telah duduk di kursi rodanya.

"Berapa yang harus kubayar untuk ongkos Taxi ini?" Tanya perempuan tua itu sambil mengambil dompetnya.
"Gratis." jawabku.
"Engkau harus menghidupi keluargamu, kan?" Kata perempuan tua itu lagi.
"Diluar sana masih banyak penumpang untukku." Jawabku. Lalu tanpa kusadari, tubuhku sedikit membungkuk dengan sendirinya, dan memeluk perempuan tua itu. Dia membalas pelukanku dengan erat.
"Hari ini, engkau telah memberikan sebuah kegembiraan kepada perempuan tua ini." katanya, "Terima kasih."
Aku menggengam tangganya sejenak, kemudian berjalan menuju Taxi-ku.

Aku tidak lagi menggangkut penumpang hari itu. Aku mengemudi tak tentu arah, melamun. Bagaimana jika perempuan tua itu mendapatkan seorang pengemudi Taxi yang pemarah, atau seseorang yang tidak sabar untuk segera pulang? Apa yang terjadi jika aku menolak mengantarkannya, atau aku langsung pergi begitu saja? Dalam lamunku itu, aku tidak berfikir bahwa aku telah melakukan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku.
Dalam kehidupan, kita selalu mengharapkan seuatu masa yang indah. Namun terkadang tanpa kita sadari, masa-masa indah itu seringkali terbalut dalam hal-hal kecil disekeliling kita.

Sebuah Kisah Nyata oleh Kent Nerburn

Monday, June 15, 2015

SI Pemotong Kayu

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang tukang potong kayu yang sangat kuat. Dia sedang mencari pekerjaan kepada seorang pedagang kayu yang kaya raya, dan tentu saja, pedagang itu menerimnya bekerja. Bayaran yang diberikan sungguh bagus, dengan lingkungan kerja yang menyenangkan. Untuk alasan itulah, si tukang potong kayu bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya.

Bosnya memberinya sebuah Kapak dan menunjukkanya pohon-pohon yang harus dia tebang. Pada hari pertama,si Tukang Potong Kayu memotong 18 pohon.
"Selamat!!," kata bos nya, "Bagus sekali, lakukan seperti itu!"

Merasa termotivasi oleh perkataan bos nya, si tukang potong kayu berusaha lebih keras di hari berikutnya. Namun, dia hanya bisa membawa 15 pohon. Hari ketiga, Si tukang potong Kayu mencoba lebih keras lagi, namun, lagi-lagi, dia hanya bisa membawa 10 pohon. Hari demi hari hasil potongan pohonnya semakin sedikit, padahal dia yakin telah berusaha dengan sangat keras.



"Aku pasti telah kehilangan kekuatanku." pikir si pemotong kayu itu. Dia kemudian pergi menemui Bos nya dan meminta maaf, dia menceritakan permasalahannya dan tidak mengetahui mengapa hal seperti itu bisa terjadi.

"Kapankah terakhir kali kamu mengasah Kapakmu?" tanya si Bos.
"Mengasah? Aku tidak punya waktu untuk mengasah Kapakku. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk memotong Pohon pohon itu,." jawab si Tukang Potong Kayu.

Pesan Moral :
Kehidupan kita juga seperti itu. Kadang kita menjadi terlalu sibuk sehingga kita lupa untuk mengasah
"Kapak" kita. Saat saat ini, orang orang terlihat lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi juga tidak sebahagia seperti waktu sebelumnya.

Mengapa seperti itu? Mungkinkah karena kita lupa bagaimana cara untuk tetap "tajam"? Tidak ada yang salah dengan sebuah aktivitas dan kerja keras. Tetapi kita sebaiknya tidak menjadi terlalu sibuk sehingga kita melupakan hal hal yang penting dalam kehidupan, seperti kehidupan pribadi kita, menggunakan waktu untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta, memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga, menggunakan waktu untuk belajar, dll.

Kami semua butuh waktu untuk bersantai, untuk berfikir berfikir dan menenangkan diri, untuk belajar dan berkembang. Jika kita tidak menyempatkan waktu untuk mengasah "Kapak", kita akan menjadi tumpul dan kekurangan efektifitas kita.

Sunday, June 14, 2015

Sisi Yang Lain

Dulu sekali, ketika aku sedang duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah bertengkar dengan sangat sengit dengan teman sekelasku. Aku sudah lupa apakah permasalahannya saat itu, tetapi aku tidak akan pernah bisa melupakan pelajaran yang telah aku dapatkan pada hari itu.

Saat itu, aku sangat yakin bahwa Aku benar dan dia salah, demikian juga temanku, dia sangat yakin bahwa dia yang benar dan aku yang salah. Mengetahi pertengkaran kami, Ibu guru datang dan memutuskan untuk memberikan kami suatu pelajaran penting.

Ibu Guru menyuruh kami untuk maju kedepan kelas dan menyuruhku duduk di sebelah kanan mejanya, sedangkan menyuruh temanku duduk disebelah kiri mejanya. Dari tempat ku duduk, aku dapat melihat dengan jelas wajah temanku yang pada saat itu terlihat sangat menjengkelkan bagiku.

Kemudian Ibu guru mengeluarkan sebuah bola dari loker mejanya, mengangkatnya tinggi tepat di antara kami berdua. Aku dapat melihat dengan jelas bahwa bola itu berwarna Hitam. Ibu guru bertanya kepada temanku mengenai warna bola itu. "Putih". Jawab temanku.

Aku tidak percaya bahwa temanku berkata bahwa bola itu berwarna putih. Bola itu jelas berwarna Hitam! Pertengkaran baru mulai terjadi antara aku dan temanku, kali ini adalah mengenai warna benda bulat itu.





Ibu guru berkata kepadaku untuk berdiri dan berpindah ke tempat temanku duduk, dan berkata hal yang sama kepada temanku. Kami bertukar tempat, dan sekarang, Ibu guru bertanya kepadaku apakah warna bola itu. Terkejut, dan dengan berat hati akupun menjawab, "Putih." 

Ternyata itu adalah sebuah bola dengan dua warna yang berbeda pada kedua sisinya, dan dari sisi temanku bola itu berwarna Putih. Hanya dari sisiku bola itu berwarna Hitam.

Pedan Moral : Kadang kala, kita perlu melihat suatu permasalahan sari sudutpandang orang lain untuk bisa benar benar memahami cara pandang mereka.
 

Nasib Koruptor

Pada suatu hari, seorang pria sedang berjalan menyusuri pantai dan tanpa sengaja pandangan matanya terarah kepada sebuah lampu tua yang berbentuk aneh. Tiba tiba dia teringat tentang kisah aladin dan lampu ajaib, dan kemudian, dengan iseng, pria itu menggosok-gosok lampu itu. Diluar perkiraan, ternya itu adalah lampu ajaib. Seorang Jin keluar dari dalam lampu itu kemudian memberi sebuah salam penghormatan dan berkata, "Terimakasih telah membebaskanku dari lampu itu, sebagai balasannya, aku akan mengabulkan tiga buah permintaanmu." Pria itu tampak sangat senang.

"Tetapi keajaiban-ku memiliki sebuah syarat." Lanjut jin itu.
"Apa syaratnya?" tanya pria itu, sambil memandang dengan curiga ke arah jin itu.
"Untuk setiap permintaan yang engkau ucapkan, semua koruptor di dunia akan mendapatkan Dua Kali Lipat dari apa yang engkau minta." Jawab Jin itu.
"Baiklah! Itu tidak masalah buatku." jawab pria itu.




"Apa permintaan pertamamu?" tanya Jin itu.
"Aku selalu ingin mempunyai mobil Ferrari!" jawab pria itu, yang kemudian terdengan suara 'Poof', sebuah Ferrari muncul dihadapannya.
"Sekarang, semua Koruptor diseluruh dunia juga mendapat Dua buah Ferrari seperti ini." Kata Jin itu, "Apakah permintaanmu selanjutnya?"

"Aku pikir uang satu juta dollar akan cukup bagiku,." jawab pria itu, yang disusul dengan bunyi 'Poof', beserta uang satu juta dollar tertata rapi dihadapan pria itu.
"Sekarang, setiap koruptor di dunia juga mendapatkan Dua Juta Dollar, mereka sekarang menjadi jauh lebih kaya." Kata jin itu mengingatkan. "Dan sekarang, Apakah permintaan terakhirmu?"

Pria itu terlihat berfikir keras dan cukup lama, dan kemudian berkata, "Sudah lama aku menginginkan hal ini, semoga engkau dapat mengabulkannya. Aku Ingin Mendonorkan salah satu Ginjalku."


Note : Bukankah manusia hanya memiliki dua buah ginjal? Lol.

Saturday, June 13, 2015

Si Pengacara Part II

Seorang pengacara kidal, yang sangat sukses sedang memparkirkan mobil Lexus barunya di depan kantor yang akan dipamerkan kepada teman temannya nanti. Ketika dia akan keluar dari mobilnya, sebuah truck lewat sangat dekat dengan dirinya dan menyerempet pintu mobilnya yang sebelah kanan hingga terlepas dari engselnya. Pengacara itu dengan segera mengambil HP-nya dengan tangan kirinya dan kemudian memanggil 911. Dalam waktu singkat, polisi muncul untuk memeriksa kejadian itu.

Sebelum petugas polisi sempat bertanya tentang kronologi kejadian itu, si pengacara mulai berteriak histeris. Mobil Lexusnya yang baru saja dia beli kemarin rusak berat di bagian pintunya, dan mobil itu tidak akan pernah kembali seperti seperti sedia kala, tidak peduli seberapa hebat bengkel yang memperbaikinya. Ketika akhirnya pengacara itu tampak mulai tenang dari rasa histerisnya, petugas polisi menggelengkan kepalanya dengan jijik dan setengah tidak percaya,.




"Anda sungguh seorang pengacara Yang Materialistis Pak!" kata polisi itu, "Anda terlalu fokus pada mobil baru anda sehingga anda melewatkan sesuatu yang lebih penting."
"Bagaimana anda bisa berkata seperti itu?" protes pengacara itu.
"Tidak tahukah anda, bahwa tangan kanan anda, mulai dari siku kebawah, juga turut hilang terserempet truck tadi?"Jawab polisi tadi.
"Oh! tidak!!!" Teriak pengacara itu. "Dimana jam Tangan ROLEX-ku?!!"

Thursday, June 11, 2015

Kepercayaan Diri

Seorang Pria yang berprofesi sebagai pengusaha eksekutif sedang terlilit permasalahan hutang, dia tidak memiliki jalan keluar untuk masalahnya tersebut. Dia sering dikejar kejar rentenir dan para klien nya menuntut jatah pembayaran. Dia duduk di sebuah bangku taman, menopang kepalanya di kedua tanggan, sambil melamun, 'apakah ada cara untuk mencegah perusahaannya mengalami kebangkrutan.'

Tiba tiba seorang pria tua mendekatinya dan berkata, "Aku dapat melihat bahwa sesuatu sedang menggangu pikiranmu."
Pria pengusaha itu kemudian menceritakan segala permasalahan yang dia alami. Si Pria Tua tampak Berfikir sejenak, kemudian pria tua itu berkata, "Mungkin aku bisa membantumu." Dia mengeluarkan selembar cek, kemudian menanyakan nama pria pengusaha itu untuk dituliskan di cek tersebut dan kemudian meletakkannya di tangan pria pengusaha itu, dan kemudian pria tua itu berkata, "Ambilah uang ini, Temuilah aku di tempat ini, tepat satu tahun dari sekarang, dan kamu dapat membayar hutangmu kepadaku." Kemudian pria tua itu pergi.



Pria pengusaha itu melihat ditangannya, sebuah cek bernilai $500.000, yang ditanda tangani oleh John D. Rockfeller, salah satu orang terkaya di dunia.
"Dengan uang ini, Aku dapat melunasi semua utangku dengan mudah." pikir Pengusaha itu. Namun entah mengapa, dia memutuskan untuk meletakkan cek (yang belum dia cairkan) itu di brankasnya. Dalam hatinya, menyadari bahwa ia masih memiliki cek itu telah memberinya cukup kekuatan untuk kembali bekerja menyelamatkan perusahaannya, paling tidak, itulah yang dia pikirkan saat ini.

Dengan rasa optimis yang baru, dia mampu bernegosiasi dengan lebih baik dengan kliennya, membuat kesepakatan-kesepakatan tak terduga yang dapat memperpanjang pelunasan pembayaran hutangnya. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, dia akhirnya mampu memenangkan banyak tender besar. Dalam jangka waktu satu bulan, dia dapat menutup segala hutangnya dan mengumpulkan uang di bulan-bulan berikutnya. 

Tepat satu tahun kemudian, pria pengusaha itu kembali ke taman dengan membawa cek yang sama sekali belum dia cairkan. Pada waktu yang sama seperti satu tahun yang lalu, pria tua itu muncul. Ketika pria pengusaha itu hendak mengembalikan cek senilai 500.000$ itu kepada si pria tua dan dengan penuh semangat akan menceritakan kisah kesuksesannya, tiba tiba seorang perawat rumah sakit datang mendekati pria tua itu dan menangkapnya. 

"Aku lega bisa menangkapnya." kata perawat itu kepada pria pengusaha, "Aku harap, pria tua ini tidak merepotkanmu. Dia selalu saja kabur dari panti jompo dan berkata kepada orang orang bahwa dirinya adalah John D. Rockefeller."
Kemudian perawat itu pergi dengan menggandeng pria tua itu.

Pria pengusaha itu terkejut, tidak tahu harus berkata apa. Setahun penuh dia bergulat dengan klien mencari penawaran, melakukan penjualan dan pembelian, dia yakin bahwa uang $500.000 itu ada padanya, siap digunakan kapanpun dan menjadi penggerak baginya untuk bangkit kembali.

Tiba tiba dia menyadari bahwa yang terjadi sebenarnya bukanlah mengenai uang atau cek kosong itu, yang telah mengembalikan kehidupannya. Namun, itu adalah dirinya sendiri, yang telah berubah, dengan memiliki sebuah kepercayaan diri, yang akhirnya memberinya kekuatan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Wednesday, June 3, 2015

Si Pengacara (Part I)

Pada suatu sore, seorang pengacara sedang mengendarai mobil limonsin-nya. Di tengah jalan dia melihat dua orang pria sedang memakan rumput di pinggiran jalan. Merasa terganggu melihat kejadian itu, si pengacara memerintahkan sopir pribadinya untuk berhenti, kemudian ia keluar dan bertanya kepada salah seorang pria yang memakan rumput itu.
Pengaca itu bertanya, "Mengapa anda memakan rumput?"
"Kami tidak memiliki uang untuk membeli makanan," jawab pria malang itu, "kami terpaksa memakan rumput ini agar bisa bertahan hidup."
"Aku mengerti, kalau begitu, kalian bisa ke rumahku, dan aku akan memberi kalian makan." kata pengacara itu.
"Tetapi aku memiliki istri dan dua orang anak. Mereka berada disana, sedang berteduh dibawah pohon." kata pria itu.
"Ajak mereka sekalian." jawab pengacara itu.
Pengacara itu kemudian memandang ke arah pria yang satunya dan berkata, "Kamu juga, ikutlah bersama kami."
"Tetapi pak, aku juga memiliki istri dan enam orang anak, aku takut mereka akan merepotkan anda." Balas pria yang satunya."
"Tidak apa-apa, ajaklah mereka ikut." jawab pengacara itu singkat.



Kemudian mereka semua masuk kedalam mobil limonsin. Perlu usaha keras bagi mereka semua untuk masuk kedalam mobil itu. Dalam perjalannanya menuju rumah si pengacara, salah satu dari pria itu berkata, "Pak, anda sungguh merupakan orang yang baik hati, terimakasih telah mengajak kami semua untuk ikut bersama anda."
"Dengan senang hati aku melakukannya. Kalian akan sangat senang berada dirumahku. Rumput disana sudah tumbuh setinggi lutut." Jawab pengacara itu.

Pacitan Tourism